Upah kesetiaan

Wah 2:13 – “….engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu,…”

William Barclay –  “…Pergamus adalah pusat agama kafir, penyembahan berhala dan dewa-dewi. Di sana ada penyembahan Atena dan Zeus, yang altar raksasanya menjulang menguasai kota. Di sana juga ada penyembahan Asclepios yang membuat orang sakit berdatangan dari tempat yang jauh maupun dekat. Dan di atas semua ini, ada penyembahan Kaisar yang penuh tuntutan, bagai pedang beracun yang melayang-layang siap menebas kepala orang Kristen. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 134).

Pada waktu itu gubernur-gubernur Romawi terbagi menjadi 2 bagian. Ada gubernur yang mempunyai hak untuk menghukum mati seseorang yang disebut hak pedang atau “Ius Gladi”dan ada gubernur yang tidak mempunyai hak ini. Pontius Pilatus adalah gubernur yang memiliki hak “Ius Gladi” ini. Itulah sebabnya ia mempunyai kuasa untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus. Nah pada saat itu gubernur propinsi Asia yang tinggal di Pergamus sebagai ibukota propinsi adalah gubernur dengan hak “Ius Gladi” ini dan karena itu ia mempunyai kuasa untuk menghukum mati seseorang dengan perkataannya. Persoalannya adalah bagi seorang Kristen, tidak ada Tuhan lain selain Yesus Kristus. Bagi orang Romawi, ketidakmauan untuk mengakui kaisar sebagai Tuhan adalah ketidaksetiaan terhadap Romawi tetapi bagi orang Kristen, pengakuan terhadap orang lain sebagai Tuhan selain Yesus adalah ketidaksetiaan dan bahkan pengkhianatan terhadap Yesus. Orang Romawi mau agar orang Kristen mengakui kaisar sebagai Tuhan sebagai bentuk kesetiaan kepada Romawi tetapi orang Kristen mau setia kepada pemerintah Romawi tapi tidak dengan cara mengakuinya sebagai Tuhan apalagi menyembahnya. Karena itu banyak orang Kristen Pergamus yang menolak menyebut kaisar sebagai Tuhan apalagi memberi korban / persembahan di kuil kaisar. Akibatnya banyak dari antara mereka yang dihukum mati dengan hak pedang / “Ius Gladi” nya gubernur. Mungkin karena latar belakang inilah maka Yesus dalam surat-Nya kepada jemaat Pergamus memperkenalkan diri-Nya sebagai yang memakai pedang tajam bermata dua.

Wah 2:12 – “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua:

Salah seorang dari Pergamus yang dihukum mati adalah Antipas.

Wah 2:13 – “… Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu,…”

Siapa sebenarnya Antipas ini? Tidak ada informasi yang cukup dan akurat. Dari beberapa sumber yang mengacu pada tradisi Kristen, hanya dikatakan bahwa Antipas ini adalah bishop / uskup di jemaat Pergamus. Dalam sebuah pertentangan dengan para imam Asclepius, ia dihukum mati dengan cara dibakar di dalam sebuah sapi kuningan. Hanya itu saja informasinya. Kisah Antipas ini jelas berbeda dengan kisah uskup Smirna (Polycarpus) yang kisahnya lebih dikenal dan lebih akurat. Tetapi tentang fakta tidak terkenalnya Antipas inia ada hal yang menarik :

Pulpit Commentary – Tentang Antipas kita tidak mengetahui apa pun lebih dari yang disebutkan di sini. Tidak ada catatan sejarah, kecuali ini, yang menunjuk kepadanya. Tetapi Kristus tidak pernah lupa. Diingat oleh Dia adalah sesuatu yang sudah cukup masyhur.

Jadi maksudnya adalah biar pun sejarah tidak mencatat dan mengingat si Antipas ini, tapi Tuhan Yesus Kristus mengingat dia. Demikian juga Tuhan pasti mengingat setiap penderitaan dan pengorbanan saudara karena iman saudara kepada Dia sekalipun manusia mungkin melupakannya. Bukan hanya itu saja. Yang menarik adalah bahwa Yesus menyebut Antipas sebagai “Saksi-Ku yang setia”.

Wah 2:13 – “… Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu,…”

Dan ini adalah sebuah penghormatan yang besar dan pujian yang sangat tinggi bagi Antipas karena sebutan itu sesungguhnya adalah sebutan Kristus untuk diri-Nya sendiri.

Wah 1:5 – dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini….”

Jadi Kristus memuji kesetiaan Antipas tetapi pada saat yang sama Ia juga memuji jemaat Pergamus yang pada saat Antipas menjadi martir (dibunuh di hadapan mereka), mereka tidak goyah iman dan kesetiaannya kepada Kristus melainkan tetap berpegang pada nama Kristus dan setia kepada-Nya.

Wah 2:13 – “…engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, …”

Semua ini mengajarkan kepada kita betapa Tuhan begitu senang dan menghargai orang-orang yang setia kepada-Nya, apalagi mereka yang setia kepada-Nya di dalam penderitaan, kesukaran, bahaya dan ancaman. Lebih lagi mereka yang setia sampai mati. Bandingkan dengan fakta bahwa Alkitab berkata Yesus naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, tetapi pada saat Stefanus mau mati syahid, justru dikatakan bahwa Yesus berdiri.

Kis 7:55-57 – (55) Tetapi Stefanus,…menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. (56) Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” (57) Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. (58) Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. …

Mengapa Yesus berdiri?

Wycliffe Bible Commentary – Yesus biasanya dilukiskan sebagai duduk di sebelah kanan Allah (Maz 110:1; Ibr 1:13). Mungkin di sini Dia digambarkan sebagai berdiri dari takhta-Nya untuk menerima sang martir ini. (Vol 3, hal. 427).

Jadi kelihatannya ini semacam penghormatan berupa “Standing Ovation” bagi hamba-Nya yang setia. Demikianlah Tuhan Yesus menghargai, menghormati dan mumuji hamba-hamba-Nya yang setia kepada-Nya di dalam segala kesulitan dan penderitaan dan kematian.

Dalam pengiringan kita kepada Tuhan Yesus Kristus di dunia ini, kita pasti akan diperhadapkan dengan begitu banyak tantangan, penderitaan, kesulitan, permusuhan, perlakuan yang tidak menyenangkan, bahkan aniaya. Jika demikian bagaimana sikap saudara? Maukah saudara setia dan terus berpegang pada nama-Nya?

Ada sebuah kisah tentang Ignatius dari Antiokhia. Ia adalah murid dari Rasul Yohanes. Dikatakan bahwa pada masa pemerintahan kaisar Trajan, Ignatius dengan keras menolak dan menentang praktek penyembahan kepada kaisar-kaisar Romawi. Akibat dari itu, ia ditangkap dan dikirim ke Roma untuk dihukum mati di sana. Dalam suratnya kepada jemaat Roma, ia menulis demikian :

“Aku siap menghadapi binatang buas yang siap melahapku sekarang. Sekarang aku menjadi murid Kristus. Aku tidak memandang segala sesuatu, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan yang membuat kagum dunia ini. Cukuplah bagiku jika aku ikut ambil bagian dalam Kristus. Biarlah iblis dan orang-orang jahat menyakitiku dengan segala macam sakit dan penyiksaan, dengan api, dengan salib, dengan bertarung melawan binatang buas, dengan tercerai berainya anggota tubuhku, aku tidak terlalu menghargai semuanya itu, karena aku menikmati Kristus”.

Di depan Senat Roma yang mengadilinya, Ignatius selalu berbicara tentang Yesus. Hampir semua kalimatnya ada nama Yesus disebutkan di dalamnya. Ini membuat para anggota Senat menjadi marah dan bertanya kepadanya “mengapa kamu selalu saja menyebut nama Yesus itu?” Ignatius pun menjawab :

“Yesus yang kukasihi, Juruselamatku, tertulis sangat dalam di hatiku, sehingga aku merasa yakin, jika hatiku dibelah dan dipotong-potong, nama Yesus akan ditemukan tertulis dalam setiap potongan tersebut”.

Akhirnya Ignatius pun dihukum mati dengan cara membiarkannya menjadi mangsa binatang buas. Sebelum 2 ekor binatang buas dilepas untuk memangsanya, Ignatius sempat berkata :

“Aku adalah biji mata Tuhan. Aku digertak oleh gigi-gigi binatang buas  supaya aku menjadi roti Kristus yang murni, yang bagiku merupakan roti kehidupan”.

2 ekor binatang buas pun dilepas dan langsung segera memangsa Ignatius. Seluruh tubuhnya dimakan habis binatang buas itu hingga hanya tertinggal beberapa potongan tulangnya saja. Demikianlah kisah Ignatius yang berhadapan dengan binatang buas dan menjadi martir Kristus.

Lalu bagaimana dengan anda? Bagaimana jika anda yang diperhadapkan dengan binatang buas? Maukah anda tetap setia mengiring Tuhan dan berpegang pada nama-Nya? Kalau ya, Tuhan menghargai dan menghormati saudara!

Advertisements

What is your life?

Saya punya sebuah kalimat hari ini, yang sebenarnya merupakan sebuah pertanyaan. Dan ini merupakan sebuah pertanyaan yang tidak bisa kita jawab secara kolektif. Ini sebuah pertanyaan yang harus kita jawab masing-masing secara personal. Pertanyaan ini ditemukan dalam surat seorang rasul yang sangat praktikal, yaitu rasul Yakobus. Yakobus 4: 13-14. Sangat mengagumkan jika kita melihat tulisan ini dan engkau tidak akan pernah menghadapi pertanyaan yang lebih menantang daripada pertanyaan ini. Apakah arti hidupmu?

Perhatikan bahwa tidak dikatakan Apakah arti hidup? Karena jika demikian tidak ada seorangpun yang punya jawabannya. Tidak juga dikatakan Apakah arti hidup kita? Jadi lebih jauh lagi kita bisa mendorong pemikiran kita dan berkata Apakah arti hidupmu? Dan teks ini menjawab Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

Ice to Steam

Ada tiga pertanyaan terbesar yang datang ke dalam hidup. Anak-anak bertanya hal ini: Dari manakah aku berasal? Dan kadangkala engkau lebih baik member mereka jawaban yang benar sebab jika tidak mungkin orang lain akan memberikan mereka jawaban yang salah. Dan mungkin di usiamu saat ini engkau bertanya pertanyaan yang lain: Mengapa aku ada di sini? Lalu pada saat kita sudah sampai di ujung jalan dan menjadi tua, engkau berkata: Kemana aku akan pergi setelah ini? Jadi ada 3 pertanyaan dasar mengenai hidup. Dari manakah aku berasal, Mengapa aku ada di sini, dan Kemana aku akan pergi setelah ini.

Saya memikirkan poin yang lain yang dikatakan Alkitab mengenai kehidupan. Salah satunya sebuah himne lama yang terinspirasi dari Mazmur 90 berkata: Hidup yang terbaik pun sejatinya adalah sangat singkat, seperti jatuhnya daun dari ranting, seperti mengikat berkas-berkas panen, bersedialah senantiasa! Ada seorang yang sangat hebat dan brilian bernama Henry Wadsworth Longfellow menuliskan puisinya yang terkenal: Hidup ini singkat! Hidup ini nyata! Hidup ini sungguh-sungguh! Dan kubur bukanlah tujuannya, “Debu asalnya, debu kembalinya, apakah jiwa tidak berbicara? Dan Alkitab bukanlah tentang yang lainnya tetapi tentang hidup. Dan lagi engkau mendengar orang berkata bahwa hidup itu tidak benar, hidup itu tidak adil. Seorang lain berkata hidup adalah makan sepuasnya sementara yang satunya berkata hidup adalah kelaparan. Seorang berkata hidup adalah firdaus sementara yang lainnya berkata hidup adalah penjara. Lihat, pertanyaannya di sini sangat menohok dan mungkin sangat personal dan bahkan itu sangat menyakitkan. Mungkin engkau sendiri dapat menjawab arti hidupmu. Apakah arti hidupmu? Engkau berkata kegagalan. Apakah arti hidupmu? Engkau berkata kesuksesan. Apakah arti hidupmu? Engkau berkata kekecewaan. Akan tetapi ini menunjukkan kepada kita di dalam konteks sejatinya bahwa hidup itu seperti uap yang keluar dari sebuah teko dan engkau mencoba menggenggamnya dan uap itu segera hilang. Dan disetiap kasus dalam Alkitab yang mengacu soal hidup, yaitu hidup jasmani ini, itu dikatakan seperti sesuatu yang sangat cepat. Seperti seorang yang memasang kemah dan bergerak pada malam harinya. Yesaya 40:6, 1 pet 1:24, Luk 12:28 mengatakan hidup itu seperti rumput di padang yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api. Lihatlah bahwa Firman Tuhan ini selalu berbicara tentang kehidupan.

Pada tahun 1912 muncul kelompok yang menyebut dirinya Fabian Socialist. Mereka berbicara mengenai dunia Utopia. Dunia yang adil, makmur dan terdidik. Mereka mempropagandakan kepada banyak orang bahwa Utopia tidaklah jauh. Mereka bahkan yakin bisa membentuk ras baru lewat intelektualitas dan proses biologi. Kita akan melakukannya. Mereka pikir kekristenan telah gagal selama ratusan tahun. Jadi dunia tidak butuh gereja. Mereka tidak berbicara mengenai dosa dan pertobatan. Kita tidak membutuhkan langit baru dan bumi yang baru. Lalu mereka menjalankan kampanye mereka. 1912, 2 tahun sebelum perang dunia 1. Anda tahu apa yang terjadi kemudian? Dunia semakin tidak sehat, semakin banyak kerusakan moral, semakin banyak perumahan kumuh. Dunia menjadi rumah yang kacau!

Dan seorang dari mereka HG Wells, seorang pria yang bermimpi tentang dunia baru, bermimpi tentang system dunia yang baru, lewat karya2nya yang bergenre science fiction menulis buku terakhirnya berjudul: Mind at the End of Its Tether (Akal, di akhir tambatannya). Dia menulis seluruh umat manusia sering berkata: Tidak ada harapan bagi umat manusia. Tidak ada harapan bagi umat manusia! Karena katanya manusia memiliki ruang kosong di dalamnya. Manusia memiliki ruang kosong di hatinya. Sehingga engkau menemukan seorang berkata: Masa muda adalah sebuah kesalahan, masa dewasa adalah ketololan, dan usia tua adalah sebuah penyesalan.

You have made us for yourself, O Lord, and our heart is restless until it rests in you. ~ Agustinus

Betul, jika engkau kehilangan satu –satunya jalan untuk memperoleh hidup. Ketika Yesus menjadi manusia Dia berkata Joh 5:40  namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Sekarang ingatlah pernyataan-Nya yang agung itu Joh_14:6  Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Akulah jalan, sebab tanpanya tidak ada perjalanan, Akulah kebenaran, sebab tanpanya tidak ada pengetahuan, Akulah hidup, sebab tanpanya tidak ada pertumbuhan.

Bukankah sangat ofensif mengatakan demikian kepada orang banyak? Dengar ! Mungkin engkau adalah seorang yang jenius. Kamu punya intelektualitas yang kolosal/besar sekali, engkau mungkin menemukan sesuatu yang baru. Tetapi tahukah engkau bahwa sejatinya engkau mati. Sebab engkau tidak punya relasi dengan Tuhan.

Saya sering membayangkan apa yang sebenarnya Paulus lihat di jalan ke damsyik sehingga dia berkata: Siapakah engkau, Tuhan? Kita sering membacanya begitu datar dan keliru sehingga perkataan itu tidak berarti. Seharusnya intonasinya: Sipakah engkau?! Tuhan???? Dia adalah pria dengan intelektualitas sangat besar, bibit unggul, paling ibrani di antara orang ibrani, paling farisi diantara orang farisi, dari keturunan Abraham, dia telah menuruti hukum taurat tanpa cacat. Dan waktu itu dia sedang bersegera menuju damsyik. Penuh kemarahan dan kebencian yang amat panas kpd orang percaya. Dia telah membunuh banyak orang, dia memisahkan keluarga-keluarga, mengejar mereka dari kota ke kota (Kis 26). Dan Pria yang otaknya penuh dengan teologi dan hatinya penuh dengan kemarahan itu telah menulis puisi yang paling agung tentang kasih: 1Co 13:1  Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Bayangkan keajaiban anugerah Tuhan.

Saya ingin menanyakan kelak di kekekalan mengenai ini. Ketika paulus dan rombongannya di jalan ke damsyik dan ketika tiba-tiba kuda paulus terjatuh karena cahaya itu. Saya yakin ada yang posisinya di depan paulus, ada di belakang dan di kiri dan kanannya. Mereka mengawal paulus karena orang sekelasnya ini belum pernah berjalan menuju Damsyik. Apakah hanya mereka saksi dari peristiwa itu? Saya percaya setiap iblis menyaksikannya dan juga para malaikat di surga. Iblis menyaksikan karena Paulus itu adalah agen terbaiknya. Dia membawa surat kuasa untuk membunuh siapapun yang dia mau. Sampai tiba – tiba Yesus datang kepada hidupnya. Apakah engkau bisa membayangkan pria itu terjatuh ke tanah? Apakah engkau berpikir dia akan menulis ke 14 surat penggembalaan ke jemaat-jemaat di perjanjian Baru dan Apakah engkau pernah membayangkan bahwa ia akan pergi ke pedalaman-pedalaman yang jauh di seluruh dunia mendirikan 12 jemaat? Apakah engkau memikirkan bahwa dia akan didera dan dilemparkan ke dalam penjara yang terisolasi berkali-kali dan bahkan di dalam penjara itu dia menulis kepada jemaa2 seperti kolose, filipi dan efesus surat cintanya kepada jemaat itu dan mengatakan: Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!? Bukankah jemaat2 itu yg seharusnya mengirimkan surat penghiburan kepadanya? Mengapa? Karena di tengah jalan ke Damsyik itu, dia menjadi hidup. Formalitas ritual agamawi hilang seketika. Keajaiban kelahiran baru!

Anda tahu? Hal  yang paling mengherankan dari Alkitab adalah sekalipun engkau mempunyai kepintaran yang hebat, engkau telah menulis banyak buku , engkau punya banyak harta, itu tidak pernah menjamin hidupmu dan akan lenyap dengan seketika. Engkau kehilangan nyawamu.

Semuanya adalah tentang hidup. Semuanya yang Yesus katakan adalah tentang hidup. Dan yang paling agungnya adalah tentang hidup yang kekal. Bayangkan ketika seluruh hidup ini menjadi tempat Allah tinggal dan bergerak di dalam seluruh kehidupan-Nya. Yesus berkata Joh_6:51  Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Mat_4:4  Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Dia berkata: Akulah air kehidupan. Kita tidak dapat hidup tanpa air. Joh_4:14  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.

Yesus berkata: Akulah terang hidup. Joh_8:12  Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

Dan Yesus berkata: Yoh 10:10 Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Visionary, not just a [materially] blessed life

Where there is no vision, the people perish..

(Ams 29:18a)

Kita bisa punya kehidupan yg diberkati, dengan makan manna tiap hari, minum air yg keluar dr batu tiap hari, berpayungkan tiang awan tiap siang terik dan berselimutkan tiang api tiap malam nan beku..
Ya! tiap hari!

Tetapi pada hakekat yg sebenarnya sedang berputar2 selama berpuluh2 tahun tanpa pernah sadar, Anda sedang TIDAK kemana – mana. You are lost in the middle of nowhere! Tanpa sebuah kesadaran akan tujuan Illahi dalam kekeristenan Saudara. Tanpa pernah menyebrang ke tanah perjanjian. Tanpa mewarisi apapun. Dan yg paling menyedihkannya adalah, tanpa peduli lagi dengan janji itu.

“Persetan dengan itu! This is my own blessed life!,” Kata semua bangsa itu. Yet, pada akhirnya generasi seperti ini telah mati dalam pengembaraan mereka, tanpa pernah diingat, dan tulang2 mereka berhamparan di padang pengembaraan tanpa pernah ada satupun yg akan berziarah kepada mereka kelak. Mereka mati di negeri antah – berantah. Berlalu, hilang lenyap seperti embun dihempaskan angin. They are perished! (Yosua 5:6)

Mereka mati, hingga muncul generasi baru yaitu generasi yg telah bersih dr bayangan kenikmatan palsu Mesir, dan generasi yg telah dididik sejak lahirnya untuk berperang dan menduduki Tanah Perjanjian, yaitu generasi Yosua. Generasi yg dipimpin para pemberani semacam Yosua dan Caleb. Dua orang yg jauh dr kata pengecut, para petarung kehidupan, para visionary yang berani mengorbankan bahkan nyawa mereka sendiri demi genapnya janji Allah. Generasi yg bergerak maju (bukan berputar2 lagi) dan mencetak sejarah. Generasi yang mewarisi tanah perjanjian. Negeri milik mereka sendiri yang berlimpah2 susu dan madunya. Negeri dimana mereka akan berketurunan untuk selama – lamanya dan Tuhan tampil bersinar di tengah2 mereka. Sebuah generasi dengan tujuan, dan generasi yang mencapai visi!

Rekan2, tujuan akhir kekristenan kita bukanlah kesenangan/ kesejahteraan manusia, bukanlah keluarga yg bahagia, rekening yg gendut ataupun jenjang karir yang penuh promosi demi promosi. The happiness of man is not the main goal of Christianity. The happiness of man is the main goal of humanism. Dan Kekristenan bukanlah humanisme. Akhir hidup para rasul dan jemaat perdana yg penuh penderitaan dan aniaya, jauh dari tujuan humanisme. Tujuan kekristenan adalah kemuliaan Tuhan! Maka dengan hidup yg telah ditebus ini, muliakanlah Tuhan. Genapilah visi yg dianugerahkanNya padamu sejak mahasiswa.

Kita mungkin berkata, kan apapun yg kita lakukan kita bisa lakukan seperti untuk Tuhan dan bukan manusia (Kol 3:23). Betul, tetapi ingatlah Dia juga berikan amanat untuk setiap murid Kristus untuk pergi dan bersaksi hingga ke ujung2 bumi. Dia juga telah membabtis kita dengan Roh Kudus untuk tujuan yg engkau dan saya juga telah ketahui persis. Dia juga berikan kita visi untuk memberkati kampus2, Indonesia sampai ke bangsa2. Jadi ingatlah juga ayat yg suka kita pakai untuk membenarkan diri, yang satu harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan! Apakah itu hanya untuk orang2 tertentu saja? kalau begitu buat apa, di dalam kedaulatanNya dia pernah menempatkanmu dalam kumpulan orang yg mewarisi visi itu sejak di kampus? Buat apa kita pernah menjadi pekerja, pemurid dan misi selama di kampus? Apakah Tuhan salah orang?

Mari tetap menjadi seorang visionary, sekalipun kita telah alumni, karena memang tujuan kealumnian kita adalah untuk lebih lagi menggenapi panggilanNya. Motto kita tidak pernah berubah, we are blessed to be a blessings. Mari muliakan Tuhan dengan kealumnianmu, dan juga mari usahakan agar setiap kampus, dan suku bangsa juga kelak akan memuliakan Tuhan KARENA HIDUPMU!


Burn us again with Your heart Lord so we hear and obey the calling to the tribes..

Melayani Yesus


Kalau kita membaca perikop perihal penghakiman terakhir dalam Mat 25: 31-46, di sanalah akan tampak jelas apa yang paling penting dan paling utama yang ada dalam hati Yesus mengenai pelayanan yg sejati, pelayanan yang kita lakukan langsung kepada Yesus. Banyak orang berkata, ‘ aku ingin melayani Yesus ‘ dan untuk itu kita perlu mengerti pelayanan seperti apa yang akan diperhitungkan olehNya di akhir zaman/ di akhir hidupmu kelak.

Yesus berkata ketika memisahkan orang seperti memisahkan kambing dengan domba, “segala sesuatu yang engkau lakukan untuk salah seorang saudaramu yang paling hina ini, engkau telah melakukannya untuk Aku! ” . Dari sini kita mengerti bahwa pada akhirnya Yesus tidak akan tanya berapa lama jam terbang kita memimpin pujian, berapa lama kita menari, berapa banyak kita memainkan bass, dan semua hal yang kita lakukan di “dalam” gedung ibadah gereja.

Yang akan Dia upahi kelak bagi hamba-hambaNya adalah pelayanan yang mereka lakukan “diluar” gereja. Di tempat dimana orang- orang hina berada dan terkucil. Tempatnya orang – orang telanjang, lapar dan menjadi orang asing. Tempat dimana yang terhilang menantikan anak2 Allah dinyatakan. Pelayanan yang kita lakukan untuk yang terhilang inilah yang akan dilihat Yesus kelak sebagai apa yang kita telah juga lakukan bagiNya.

Hati Yesus tidak pernah berubah, mataNya selalu tertuju pada yg terhilang dalam kegelapan dosa, kakiNya selalu melangkah keluar ke tempat pelacur mengasingkan diri, ke tempat pemungut cukai yang menyesali perbuatannya, ke tempat orang gila yang kerasukan setan dimana tidak ada yang memperdulikannya. Itulah hatiNya sejak semula dan Dia tidak sedang berubah. Dia tinggalkan 99 domba yang baik2 saja dan pergi mencari 1 yang terhilang. Ya! Sekalipun hanya 1, sekalipun hanya aku orang berdosa di dunia ini, Dia akan tetap turun, lahir, dianiaya, mati tersalib dan bangkit dengan cara yang sama bagiku yang terhilang ini seperti apa yang sudah dilakukanNya.

Seluruh isi hatiNya, kehidupanNya dan kasihNya akan jauh lebih nyata justru di luar kumpulan orang yg merasa baik2 saja dan diberkati senantiasa dan “mungkin” tidak tahu atau malah tidak peduli di luar sana masih banyak yang terhilang. Yesus selalu sudah lebih dahulu melangkah. Dia hari ini ada di kantin2 kampus, kosan2, kota2, pulau2 bahkan desa2 yang didiami kedar (suku2 bangsa yang belum mendengar kabar baik sama sekali). Di sanalah Yesus terlebih rindu dilayani, bukan di mimbar. Bukan mimbar yang paling penting. Itu bisa saja diambil dari kita, asal jangan amanat agungNya.

Maukah kita bersungguh-sungguh sejak hari ini berjalan mengikut Dia, bahkan ke tempat2 paling beresiko dan berbahaya sekalipun? Maukah kita menjadi alumni yang tetap terjual habis sekalipun sudah punya keluarga, punya ladang, punya rumah, punya deposito, punya karir mentereng, punya mobil dan punya semuanya? Maukah kita tukarkan itu semua dengan panggilanNya dan tidak ingkar? Saya berdoa dan kita semua memang harus berdoa supaya Kristus menjamah kita lagi.

Melayani Yesus berarti melayani yang terhilang. Be blessed!

Our Design

Aku tidak tahu mengenai Anda, tapi kalau aku mulai malas di dalam Tuhan, aku akan menangis saat kuputar lagu Kent Henry “we are marching in the light of God“. Aku menangis karena merasa seperti berkhianat. Aku tahu Tuhan mendesainku untuk saat seperti ini. Aku telah begitu didandani olehNya sejak masa mudaku…too personal to forget.

Tetapi setahuku itu bukan hanya diriku, Tuhan juga mendandani Sion ..oh, Dia sabar terhadap kita, ditungguiNya kita, diampuniNya kita, beberapa kali kita terpuruk, tapi Dia ulurkan tanganNya dan Dia papah kita. Tahun demi tahun berlalu, kita lebih banyak ngomong daripada menghasilkan buah. Tetapi Dia tahu apa yang Dia rencanakan mengenai kita.

Kita akan ada di barisan itu. Kita akan memberi diri kita kepadaNya. Kita akan bekerja untukNya.

Pribadi-pribadi alumni yang dikasihi Tuhan, ayo kita maju dalam terang Allah! Masuklah ke barisan. Tularkan apa yang sion lakukan di tempat kita berada. Jadilah anak-anak sion dimanapun. Jangan urusan cat rambut yang menyita pikiran, atau “next destination for holiday” atau “sekuel berikutnya dari box office hollywood”…bukan itu panggilan kita, bukan itu desain kita. Saya tidak melarang siapapun melakukan itu, saya merencanakan yang terbaik untuk keluargaku kelak…tapi ayo masuk barisan, kita telah dipanggil untuk menjadi “pelayan Tuhan, imamat yang rajani” sejak masa muda kita. Mari didapati semakin mengarah ke panggilan itu, semakin bercirikan panggilan itu, semakin ke tengah dalam barisan dan tidak mencari celah untuk melompat keluar.

Kita dipandang sebagai anak-anak panah di tangan Tuhan…itulah kita di masa muda kita. Saat peluncuran mestilah tiba suatu saat…dan untuk saat seperti inilah kita ada.

Semangati dirimu. Ingat kasih di masa mudamu, cita-citamu untuk memberi dan melakukan yang terbaik bagi Yesus.

We are to take Your light
To every nation, tongue and tribe
So they may see Your glory

Kerasulan

Ketika Yesus memanggil rasul-rasulNya, Dia sedang tidak kekurangan pelamar. Oleh karena itu, rasul adalah gelar yang mulia. Tapi berapa banyak yang ingin menjadi rasul mengetahui apa yang mereka harus lakukan?

“Rasul” bukanlah gelar kehormatan untuk membuat mereka terkenal. Gelar rasul justru menggambarkan apa yang harus mereka lakukan (pergi), dan akan menjadi seperti apa mereka (target utama dari penganiayaan, bukan prestise). Kita membaca, “Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati” (1 Kor 4: 9)..

Para rasul tidaklah secara ilahi ditunjuk supaya menjadi bos gereja. Mereka melepaskan manajemen gereja untuk orang lain. Dalam Kisah 15, orang yang melakukan hal semacam itu (manajemen gereja), yaitu Yakobus, bukanlah seorang rasul. Rasul Yakobus sudah mati martir (Kis 12). Kita tidak membaca apa-apa tentang rasul memberikan perintah. Kehormatan khusus mereka adalah bahwa “mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama-Nya,” dan mereka bersukacita (Kisah Para Rasul 5:41). Penderitaan sebagai pelopor / pionir Kristus adalah satu-satunya status tinggi yang mereka nikmati.

Mari kita mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi (Wahyu 14:4).

REINHARD BONNKE

GOD SOUGHT AND STILL SEEKS A MAN!

Aku mencari di tengah-2 mereka SEORANG yang hendak (Yeh.22:30). “I sought A MAN among them who should (Amplified). Ya, pada jaman dahulu Tuhan mencari seorang manusia yang mau bertindak bagi Tuhan, dan Tuhan masih tetap melakukan hal yang sama hari ini. Untuk setiap penggenapan janji Firman-Nya, Dia sedang mencari seorang manusia yang mau memberi diri bagi-Nya.

Barak bernyanyi: Penduduk pedusunan diam-2 saja di Israel, ya mereka diam-2, sampai engkau bangkit, Debora, bangkit sebagai ibu di Israel. (Hak.5:7). Tidak terjadi terobosan apa-apa ketika semua orang Israel memilih untuk diam-diam saja, padahal mereka telah ditindas 20 tahun lamanya oleh Yabin, raja Kanaan dan tentaranya. Namun mata Tuhan tetap mencari, dan ketika tidak ada seorang pun pria didapatkan-Nya, hati-Nya dipuaskan oleh kerelaan dan keberanian seorang wanita. Selalu dibutuhkan seorang pioneer untuk sebuah kegerakan baru.

Urapan Roh Tuhan atas Debora membuat hatinya berkobar tatkala melihat orang memilih allah baru, maka terjadilah perang di pintu gerbang. Sesungguhnya, perisai ataupun tombak tidak terlihat di antara 40.000 orang di Israel. (Hak.5:8).

Karena kemapanan, semangat untuk berperang dapat memudar; karena kenyamanan, prakarsa untuk mengambil langkah-2 terobosan baru dapat menguap; karena ingin menyenangkan banyak orang, keberanian untuk membuat keputusan-2 besar dapat sirna; karena ketakutan, kerelaan untuk mentaati suara Tuhan dapat tertunda lama; karena keragu-raguan, urapan untuk melakukan tindakan yang mendatangkan kemuliaan Tuhan dapat lenyap; dan karena mengasihani diri sendiri, kerelaan untuk berkorban dapat menjadi asing.

Tetapi hati seorang pahlawan Tuhan tidaklah demikian, dan kepada generasi pahlawan ini pulalah hati dan mata Tuhan sedang tertuju. Nyanyian Debora ini menjadi pesan profetis sorga hari-2 ini: Hatiku tertuju kepada para panglima Israel, kepada mereka yang menawarkan dirinya dengan sukarela di antara bangsa itu. (Hak.5:9).

Be blessed young people!