Faith through any circumstances

Jika engkau tawar hati di masa kesesakan, kecillah kekuatanmu (Amsal 24 : 10 )

Masa- masa kuliah di kampus adalah masa-masa yang “life changing” bagi saya. Sejak pertama masuk ke ITB, saya berhadapan dengan harapan akan masa depan yang cerah namun tidak begitu lama setelah itu saya seolah-olah berjalan menuju kehancuran. Dan di masa itulah saya menyadari keadaan saya yang buruk dan memandang kepada Salib Kristus yg ditegakkan bagi saya di atas kalvari sebagai bukti kasih-Nya.

Sejak itu saya mulai belajar untuk percaya kepada janji-janji Tuhan. Percaya bahwa Allah sanggup menolong saya keluar dari segala kesukaran- kesukaran. Di situlah saya mulai berharap pada Tuhan.

Ada kesukaran-kesukaran yg terjadi di depan saya, dan adalah sangat sukar untuk percaya kepada janji Tuhan pada masa-masa seperti itu. Saya ingin bercerita sedikit tentang kebaikan Tuhan dalam studi saya. Di tingkat tiga adalah masa2 mahasiswa itb melakukan kerja praktek. Saya ingat saya sudah daftarkan ke beberapa perusahaan dan sampai semester berikutnya saya tidak dapat tempat KP. Dulu kami punya anggapan kalau KP ke LIPI pasti lah diterima. Dan waktu itu akhirnya saya daftarkan ke sana. Ajaib sekali saya ditolak mentah-mentah. Teman2 sudah mulai mengerjakan TA bahkan sebentar lagi akan selesai, saya KP pun belum.

Saya malu sekali sebagai orang yg aktif di pelayanan, saya seolah2 tidak diberkati Tuhan. Sering saya pertanyakan mengapa Tuhan tidak peduli. Bahkan LiPi pun tolak saya ( bukan untuk mengecilkan LiPi, hhe ). Puji Tuhan dalam anugerah Tuhan saya tetap memutuskan untuk pecaya dan mengingat janji Tuhan akan studi saya. Lalu saya mau percaya bahwa Tuhan akan sediakan, bahkan tempat yang terbaik. Suatu hari di sebuah pertemuan doa, dalam keadaan pedih hati karena studi saya tidak menjadi berkat, saya dengar Roh Kudus menaruhkan satu perusahaan di hati saya, PT Telkom. Dan tidak berapa lama kemudian saya dan seorang teman diterima KP di sana.  Selama KP ini pun akhirnya saya mendapat kesempatan untuk memberitakan Injil kepada teman KP saya ini yang seorang ateis.

Di masa2 TA, pergumulan yang saya alami jauh lebih berat lagi. Saya dapat topik yang sejujurnya saya lemah di bidang itu, yaitu wireless dan pemrograman. Setelah dilihat2, programny sangat rumit. Namun saya punya harapan karena partner TA saya berjanji akan bantu saya juga. Hingga suatu kali, teman ini bilang kepada saya tidak sanggup untuk melanjutkan TA ini. Saya melapor ke pembimbing TA dan alangkah kagetnya saya mendengar beliau berkata: “ kamu kerjakan juga punya dia “. Dapat dipahami karena saya butuh hasil TA dia, untuk memulai TA saya. Dan saya tahu saat itu, habis lah saya.

Bulan demi bulan berlalu, teman-teman seangkatan mulai wisuda dan seringkali saya menangis seorang diri melihat hari demi hari wisuda saya lewati sementara teman2 saya bersukacita. Dan yang paling pedih lagi, saya dipercayakan untuk menjadi koordinator pelayanan Sion. Saya sungguh didesak dari banyak arah. Saya harus fokus ke pelayanan yang juga mengalami berbagai masalah, saya mesti mempersiapkan PD selasa dan Sion Raya, mengatur penjangkauan, mengajar Firman Tuhan dan juga harus bergumul mengerjakan TA untuk kapasitas 2 orang.

Saya ingat masa-masa itu berat sekali. Saya seperti merasa seorang diri sementara saya diharapkan untuk mencapai target tertentu di pelayanan dengan semua masalah penggembalaannya, juga mengerjakan TA. Seharusnya saya punya hak untuk menghilang dari pelayanan, tidak pedulikan lagi anak2 PA, dan off dari itu semua.

Tapi saya bersyukur untuk kebenaran yang saya terima, saya punya keinginan besar untuk meresponi setiap kebenaran yang saya terima. Saya rindu di masa2 seperti ini saya menjadi teladan bagi adik2 saya di pelayanan yang mengalami masa2 yang sama. Saya mau tetap melayani, membimbing mereka, seraya saya berjuang mengerjakan TA ini.

Berkali- kali saya coba coding, selalu gagal. Saya bahkan sering sekali coding sambil menangis dan berseru minta tolong kepada Tuhan. Saya hanya berpikir untuk lulus, dan tak apalah kalau memang tidak bisa lagi memberkati lewat studi, yang penting lulus. Namun keadaan semakin sulit. Semua teman seangkatan baik yang dipelayanan sudah lulus dan pergi. Tugas penggembalaan semakin besar, harus ada di PD selasa dan di Sion Raya dan PA ke anak2 rohani sembari terus mengalami kebuntuan di TA. Suatu kali saya minta bantuan ke dosen TA dan ternyata dosen ini pun tidak terlalu mengerti soal pemrogramannya, teman2 saya yang masih di bandung pun tidak mengerti karen struktur progam ini rumit. Microcontroler yang dipakai, belum pernah ada anak S1 yang pernah mencoba. Sayalah yang pertama kali menggunakannya. Sebuah mimpi buruk bagi saya. Ga lama setelah itu, keadaan semakin buruk karena modul yang saya pakai terbakar sampaui beberapa komponennya gosong. Saya sadar saya baru saja merusak modul seharga 8 juta.

INI TIDAK ADIL!!! Begitu teriak saya di kamar kos, dan tidak tahu lagi ke siapa saya tujukan itu. Saya ingin memukul sesuatu, tapi saya tidak tau ingin melampiaskannya ke siapa. Saya malu sekalu sebagai leader di pelayanan namun studinya memalukan. Dalam setiap kali saya harus mengarahkan adik2 di pelayanan untuk tetap percaya pada Tuhan, adalah hal yang berat sekali bagi saya. Saya sering merasa seperti pengajar yg memalukan, karena hidup saya memalukan. Saya sering mempertanyakan , bagaimana perasaan mereka punya leader yg ga lulus2. Seharusnya saya punya hak untuk mundur dari pelayanan.

Namun saya bertekat : Tuhan aku tidak mau menjadi orang-orang yang mundur di masa2 seperti ini. Karena seringkali saya lihat orang-orang mulai mundur, kandas dan terhilang di masa2 TA. Tidak lagi memPAkan dan ikut persekutuan bersama. Tuhan saya percaya tidak seperti itu seharusnya bagian saya. Saya percaya ini kesempatan bagi saya untuk naik dan tidak turun. Walaupun banyak orang meledek2 saya kenapa belum lulus2. Saya berjuang di tengah kesibukan. Dan sering hati saya sakit sebenarnya jika melihat orang2 berdalih “sibuk”. Karena saya jauh lebih sibuk dan tertekan. Namun saya tidak mau tinggalkan tanggung jawab yang Tuhan anugerahkan bagi saya di pelayanan. Saya berjuang di pelayanan dan di studi saya. Saya harus temukan waktunya, caranya. Saya terus menaruh percaya saya kepada Tuhan yang berkuasa itu. Saya percaya di ujung sana akan ada kemenangan.

Maz 119: 50 Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku.

Puji nama Tuhan, Dia Allah yang tidak pernah mengecewakan. Dia menjawab seruan lebih daripada apa yang dapat saya minta. Dia memberi lebih.

Adalah mujizat bagi saya ketika saya di lab mengerjakan program, saya sungguh alami hikmat itu mengalir bak sungai di pikiran saya. Secara tidak disengaja saya utak-atik internet, tiba-tiba saya dapat contoh program untuk micro ini dan sejak itu say pelan-pelan namun semakin cepat saya mulai selesaikan program saya. Juga entah mengapa, saya menyambung2kan kabel ke modul saya yang terbakar itu dan ketika saya nyalakan, modul ini berfungsi. Juga, ada saja ide yang muncul begitu spontan di pikiran saya untuk coding dan ketika saya compile, program itu berfungsi. PRAISE THE LORD! Saya terkejut di buku TA saya hanya untuk “listing programnya” saja ada 40 lembar. Siapa yang membuat itu? Yang jelas bukan saya, tapi Tuhan yang ajaib itu.

Friends, perjuangan saya di TA ini bahkan menjadi kesaksian bagi teman TA saya di lab, bagaimana dia melihat ada kasih karunia Tuhan yang bekerja dalam hidup saya ketika bersama2 dengannya mengerjakan TA. Dia orang kedar. Dia melihat ada hal yang supraalami bekerja dalam saya. Dia kaget, mengapa tiba-tiba dalam seminggu, dari belum apa2, TA saya tiba2 selesai.

Tidak berapa lama kemudian, saya dengar dosen TA saya memuji2 saya karena saya berhasil mengerjakan TA yang harusnya untuk 2 orang, dan modul yang saya pakai itu adalah pertama kali dipakai / diujicoba di Indonesia. Ada beberapa mahasiswa S2 bidang otomasi dan control yang dibimbing oleh beliau disuruh belajar ke saya. Jadi sebelum wisuda saya sempat juga mengajar mahasiswa S2. Lebih daripada itu, setiap orang yang akan mengembangkan sistem wireless dengan chip yang sama dengan saya akan menggunakan buku TA saya sebagai referensi mereka karena saya yang pertama kali berhasil mengujicobanya di Indonesia dan program saya akan dipakai menjadi templatenya.

Satu kali juga ada mahasiswa S2 yang bekerja di LiPi memakai hasil TA saya untuk dia jadikan pedoman menyelesaikan Tesisnya yang juga mengalami masalah di beberapa program. Juga yang lebih membahagiakan saya, ini juga diapakai oleh seorang mahasiswa S3 sebagai “base” proyek yang akan dia buat. Sungguh Tuhan telah menjawab, lebih dari yang saya harapkan.

Saya tidak tinggalkan pelayanan. Puji Tuhan saya bisa saksikan ini juga ke adik2 di pelayanan dan adalah anugrah jika hidup saya menjadi teladan bagi semua pekerja.  Saya merasakan doa mengubah segala keadaan. Iman justru bekerja semakin nyata di masa2 paling sukar. Marilah tetap kuat dalam berbagai kondisi. Jangan menjadi lemah di masa2 sukar. Jangan biarkan iblis menampimu. Ini seperti pendakian yang terjal menuju dataran tinggi yang baru. The next palteau.

Bangkit rajawali-rajawali..

Experience God!

A house of prayer

Doa adalah tindakan paling bodoh, bagi orang2 berhikmat..

Tapi, pribadi2 Illahi, dia berdoa..

Satu kali Yesus berkata : Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa..

Jadi apa yg paling identik dari gereja Yesus Kristus? Dia berdoa..

Bahkan setiap orang dari berbagai suku, kaum dan kepercayaan punya kesaksian yang sama ttg gerja Tuhan, yaitu :

Mereka senantiasa berdoa

Murid-murid tidak pernah minta kpd Yesus untuk diajar berkothbah, melakukan kegiatan-kegiatan sosial, atau bahkan berjalan di atas air..

Mereka meminta kepada Yesus : “Ajarlah kami berdoa

Mengapa? karena dlm hal ini lah Yesus paling “expert” dan sungguh menggores sesuatu dalam pemandangan murid-muridnya..

Sehingga pada akhirnya, di Kisah para Rasul, kita bisa lihat dalam berbagai kondisi, gereja mula2 punya satu insting yg spesifik, yaitu berdoa..

Dalam pergumulan berdoa, dalam penganiayaan berdoa, di penjara berdoa..Karena rumah-Ku akan disebut rumah doa..

Itulah mengapa dalam bersaksi pun mereka tidak takut! apapun yg mereka lakukan, pada akhirnya “Kabar Baik” diberitakan dengan berani..

Mereka mengerti arti memberkati, hanya satu berita yg merupakan berkat bagi orang2 terhilang yaitu “Injil”.. Kegiatan2 humaniora dan sosial mungkin bisa memperbaiki hidup seseorang, tetapi tanpa iman orang itu tetap pada akhirnya ke Neraka.. Dan iman timbul dari pendegaran, dari pemberitaan.. Injil inilah berkat yang paling utama..

Semua itu dimulai dari doa.. Keintiman mereka dengan Bapa..

Pertemuan2 doa adalah pertemuan2 yg paling sepi dalam gereja hari2 ini..

Tapi event2, konser2 rohani selalu rame memang..

Namun sekali lagi, doa adalah tindakan paling bodoh bagi orang2 berhikmat..

Blessings..