Mimpi yang hancur

Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. (Ruth 1 : 3 – 5 )

Hidup Naomi berjalan baik. Seorang suami yang hebat. Dua anak laki-laki baik yang memiliki dua istri luar biasa. Lalu yang tidak terpikirkan terjadi. Suaminya meninggal. Sedikit waktu kemudian kedua anaknya juga meninggal. Dan menantu-menantunya mwnyadari diri mereka di tengah-tengah mimpi yang hancur. Ini bukan bagaimana kehidupan seharusnya.

Bagaimana Naomi bereaksi terhadap situasi itu? “…bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?” (Ruth 1 : 13). Ah, kita melihat perasaan yang sebenarnya tentang situasi ini. Betepa beratnya dan dukanya hati Naomi. Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” (Ruth 1 : 20-21)

Mara berarti pahit. Dia menyadari keadaanya. Dia pahit terhadap “Allah yang disebut penuh cinta ini “. “Bagaimana mungkin aku bisa menerima ini?” Tidak ada asuransi jiwa. Tidak ada dana bantuan untuk janda. “Apa yang akan terjadi pada saya dan putri saya?”

Alkitab mengatakan hujan dicurahkan bagi orang benar dan juga bagi yang tidak benar. Naomi dan Ruth pindah ke sebuah komunitas di mana beberapa kerabatnya tinggal. Ruth keluar untuk bekerja di ladang untuk memungut bulir –bulir jelai. Dia kebetulan bekerja di ladang seorang petani kaya bernama Boas. Bagi Ruth ini adalah secercah harapan yang menembus hati yang pahit itu. Bahkan dia mulai bisa mengenali tangan Tuhan.

Maka berkatalah mertuanya kepadanya: “Di mana engkau memungut dan di mana engkau bekerja hari ini? Diberkatilah kiranya orang yang telah memperhatikan engkau itu!” Lalu diceritakannyalah kepada mertuanya itu pada siapa ia bekerja, katanya: “Nama orang pada siapa aku bekerja hari ini ialah Boas.” Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: “Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati.” Lagi kata Naomi kepadanya: “Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita.” (Ruth 2 : 19 – 20)

Dalam adat istiadat orang Ibrani, kaum keluargalah yang harus merawat janda dalam kaum keluarga mereka. Boas menjadi orang ini. Dia akhirnya akan menikahi Rut. Lalu Ruth akan melahirkan seorang putra, Obed. Dia akan menjadi ayah dari Isai, ayah Daud. Yesus akan datang dari garis keturunan yang sama.

Impian-impian yang hancur seringkali memimpin kepada suatu tujuan hidup yang bahkan berdampak kepada dunia (Shattered dreams often lead to a world-impacting destiny). Tapi untuk sampai ke sana selalu ada proses di mana kita harus bekerja melalui perasaan yang jujur sebelum kita dapat melihat Allah yang menebus, bahkan mimpi yang hancur yang paling dahsyat. Sekarang lihatlah hidupmu. Kita (dalam kuat kuasa Roh Kudus) tidak menyalahkan Tuhan atas segala kondisi pahit yang kita alami. Namun kita mau percaya kepada janji-Nya, Firman-Nya bahwa bagaimanapun yang terjadi, Tuhan akan memakai Sion untuk memberkati Kampus –kampus, Indonesia. Rajawali-rajawali sejati akan selalu mengatasi badai. Bangkit anak muda!