Testing for Obedience

Examine me, O LORD, and prove me; try my reins and my heart. Psalm 26:2

Sepanjang Perjanjian Lama, kita melihat banyak situasi di mana Allah hendak menguji umat-Nya dalam rangka untuk memastikan apakah mereka akan mengikuti-Nya atau mengikuti sistem dunia ini.

Bangsa Israel diuji berkali-kali selama tinggal 40 tahun di padang gurun: “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. “(Ul. 8:2).

Anda mungkin bertanya, “Mengapa Allah perlu menguji kita? Bukankah Dia tahu segalanya, termasuk apa yang akan kita lakukan dalam setiap situasi?” Ya, Tuhan tahu – tetapi kita tidak tahu diri kita sendiri! Tuhan tidak menguji kita untuk menemukan sesuatu yang Dia tidak tahu. Dia menguji kita sehingga kita dapat belajar tentang diri kita dan kasih-Nya, kekuasaan dan kesetiaan-Nya.

Dalam Kejadian 22, Allah menguji Abraham dengan memerintahkan dia untuk mengorbankan anaknya Ishak di sebuah gunung di tanah Moriah. Ishak adalah anak satu-satunya Abraham dengan istrinya Sarah – anak yang telah dijanjikan Allah bagi Abraham. Dengan meminta bahwa Ishak harus dikorbankan, Allah tampaknya meniadakan perjanjian-Nya yaitu membuat Abraham bangsa yang besar. Bagaimana mungkin janji Allah akan dipenuhi jika Ishak sudah mati?

Allah menguji Abraham untuk mengungkapkan apakah Abraham benar-benar mempercayai percaya janji-Nya atau tidak. Ya, Allah tahu apa yang Abraham lakukan, tetapi Dia ingin Abraham tahu juga. Maka Allah menempatkan Abraham untuk dalam ujian, dan Abraham lulus. Ketika Abraham mengangkat pisau untuk mengorbankan anaknya sendiri, Allah menghentikannya dan menyediakan domba kurban sebagai gantinya.

Setiap ujian melibatkan ketaatan dalam satu atau lain cara. Ketika Allah menguji kita, Dia mengungkapkan keadaan sebenarnya dari hati kita. Apakah kita taat kepada kehendak-Nya, atau kehendak kita sendiri? Kita mungkin berpikir kita tahu jawabannya, tapi kita tidak akan pernah benar-benar tahu kecuali kita telah diuji.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s